Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Produksi Embrio dengan OPU

12/05/2026 08:26:00 Admin Satker 41

 

Produksi embrio melalui metode OPU-IVF (Ovum Pick-Up – In Vitro Fertilization) merupakan salah satu metode produksi embrio dengan teknologi reproduksi tingkat lanjut yang memungkinkan untuk  menghasilkan banyak keturunan dari satu induk unggul tanpa harus menunggu masa bunting alami dengan kata lain OPU adalah prosedur medis untuk mengambil sel telur (ovum) dari indung telur (ovarium) sebagai salah satu tahapan dalam proses fertilisasi in vitro (IVF).

Dengan metode OPU ini merupakan salah satu  upaya maksimalisasi genetik, dari satu induk/donor terbaik untuk  mendapatkan puluhan embrio yang dihasilkan dalam setahun, mempercepat kemajuan kualitas ternak secara signifikan dibandingkan metode kawin alam atau inseminasi buatan (IB).

Tahapan kegiatan OPU meliputi :

1. Tahap Koleksi Sel Telur (Ovum Pick-Up)

Proses dimulai dengan pengambilan sel telur (oosit) langsung dari ovarium induk donor yang hidup. Menggunakan bantuan alat Ultrasonografi (USG) transvaginal yang dilengkapi dengan jarum aspirasi khusus, dokter hewan atau teknisi akan menyedot cairan folikel yang berisi oosit.

Metode OPU memiliki keunggulan luar biasa karena bisa dilakukan secara berulang (biasanya dua kali seminggu) tanpa mengganggu siklus reproduksi normal induk tersebut. Bahkan, sapi yang sedang bunting muda pun tetap bisa menjalani prosedur ini.

2. Maturasi In Vitro

Oosit yang berhasil dipanen tidak bisa langsung dibuahi. Sel-sel ini belum matang. Oosit kemudian dibawa ke laboratorium dan dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu (37,5 -38 °C) dan kelembaban (80 %) yang terkontrol. Di sini, oosit dimatangkan selama kurang lebih 22–24 jam hingga mencapai tahap metafase II, di mana mereka siap menerima sperma.

3. Fertilisasi In Vitro

Setelah oosit matang, selajutnya Adalah tahap fertilisasi (pertemua). Sperma yang telah diproses (kapasitasi) dipertemukan dengan oosit di dalam cawan petri. Dalam waktu sekitar 18–22 jam, sperma akan menembus dinding sel telur dan terjadilah fertilisasi yang membentuk zigot.

4. Kultur In Vitro

Zigot kemudian dipindahkan ke media kultur khusus yang meniru lingkungan saluran reproduksi induk (tuba falopi dan uterus). Selama 6 sampai 7 hari ke depan, keajaiban pembelahan sel terjadi:

  • Tahap Cleavage: Zigot membelah menjadi 2, 4, 8, hingga 16 sel.
  • Tahap Morula: Kumpulan sel menyerupai buah arbei.
  • Tahap Blastosit: Tahap akhir di laboratorium di mana embrio sudah memiliki rongga dan siap untuk ditransfer.

 5. Transfer Embrio atau Pembekuan Embrio (Kriopreservasi)

Setelah mencapai tahap blastosis, ada dua jalan yang bisa ditempuh:

  1. Transfer Segar: Embrio langsung dimasukkan ke dalam uterus induk penerima (resipien) yang siklus hormonalnya telah disinkronkan.
  2. Pembekuan Embrio (Kriopreservasi): Embrio disimpan dalam nitrogen cair (-196°C) agar bisa digunakan kapan saja.

 Manfaat dari penerapan OPU:

1. Maksimalisasi Potensi Genetik Induk Betina

Jika secara alami seekor sapi hanya menghasilkan satu anak per tahun, dengan OPU, satu induk unggul dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan embrio dalam setahun. Ini memungkinkan percepatan penyebaran sifat-sifat unggul (seperti produksi susu tinggi atau pertumbuhan daging cepat) ke generasi berikutnya.

2. Frekuensi Pengambilan yang Lebih Tinggi

Berbeda dengan metode Multiple Ovulation Embryo Transfer (MOET) yang membutuhkan jeda waktu lama karena penggunaan hormon dosis tinggi, OPU dapat dilakukan:

  • Dua kali seminggu secara rutin.
  • Tanpa harus menunggu siklus estrus (berahi) alami induk.

3. Dapat Dilakukan pada Berbagai Kondisi Induk

OPU sangat fleksibel karena tetap bisa diterapkan pada:

  • Induk yang memiliki masalah pada saluran reproduksi (seperti penyumbatan tuba falopi) namun ovariumnya masih berfungsi.
  • Ternak yang baru saja mencapai masa pubertas (pre-pubertal).
  • Donor yang sedang di istirahatkan

4. Meminimalisir Penggunaan Hormon

Prosedur OPU dapat dilakukan tanpa stimulasi hormon yang berlebihan (superovulasi). Hal ini menjaga kesehatan jangka panjang induk donor, menghindari risiko kelelahan ovarium, dan menekan biaya operasional pembelian obat-obatan hormon.

5. Efisiensi Penggunaan Sperma Unggul

Dalam proses In Vitro Fertilization (IVF) yang menyertai OPU, satu dosis sperma (straw) dari pejantan elit dapat digunakan untuk membuahi oosit dari banyak induk donor. Ini sangat menguntungkan jika stok sperma pejantan tersebut sangat terbatas atau mahal.

 

 

Profil Lainnya