Transformasi BEStGen dan Revolusi Seleksi Genomik untuk Kemandirian Peternakan Nasional
Tangerang, 17 September 2026 – Dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional dan mendukung program pemenuhan protein hewani, Kementerian Pertanian melalui Balai Embrio Ternak (BET) merumuskan strategi lompatan teknologi peternakan melalui adopsi seleksi genomik. Agenda strategis ini dibahas tuntas dalam Talkshow bertajuk "Precise Improvement Through Genetic Selection" pada rangkaian pameran International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Indonesia 2026 yang berlangsung di ICE BSD City. Acara ini dipandu secara tajam dan interaktif oleh drh. Deddy Fachrudin Kurniawan, M.Vet., CEO Moosa Genetika Farmindo dan Direktur Dairy Pro Indonesia. acara ini menyepakati sinergi lintas sektor untuk menyelesaikan krisis defisit produksi sapi dan susu di Indonesia yang saat ini baru mampu memenuhi 18% kebutuhan nasional.
Memanfaatkan momentum strategis tersebut, Kepala Balai Embrio Ternak (BET), Deasy Zamanti S.Pt., M.Si, menggaungkan rencana besar institusinya yang tengah bersiap bertransformasi menjadi Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik (BEStGen). Sosialisasi wajah baru ini bertujuan untuk menegaskan kesiapan BEStGen di masa depan sebagai otoritas sentral sertifikasi genetik dan rekayasa bioteknologi sapi di Indonesia. "Sebagai langkah awal dari transformasi ini, kami akan segera mendirikan Bank Genomik Nasional untuk menyimpan material plasma nutfah ternak asli Indonesia sebagai 'asuransi biologis'. Melalui pendekatan baru ini, kami memproyeksikan adanya lonjakan net merit (nilai mutu genetik unggul) pada sapi perah hingga 15,2%," ungkap Deasy.
Prof. Dr. Agr. Ir. Sigit Prastowo, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng., Pakar Genomik (Chief Geneticist), menekankan bahwa seleksi genetik di tingkat DNA (SNP Marker) akan menyelesaikan kelemahan fundamental sistem peternak akar rumput, seperti ketiadaan silsilah keturunan dan perkawinan ternak yang tidak terkontrol. "Dengan genomik, peternak dapat memprediksi kapasitas produksi susu anak sapi secara akurat sejak dini (early selection), tanpa harus menunggu masa laktasi bertahun-tahun. Hal ini akan memangkas kerugian finansial akibat memelihara sapi bergenetik rendah," jelas Prof. Sigit.
Menyambung hal tersebut, Asep Setiaji, S.Pt., M.Si., Ph.D., Ahli Genomik dari Asosiasi Holstein Indonesia (AHI), mengingatkan risiko penerapan seleksi genomik yang prematur jika tidak didasari oleh pendataan fenotipik yang kuat. "Kapasitas produksi susu adalah sifat poligenik yang kompleks. Tanpa adanya Herd Book (buku silsilah) yang akurat, penerapan genomik justru berisiko merusak mutu genetik di masa depan," tegasnya. Sebagai solusi, AHI tengah menyusun Herd Book nasional dan mengembangkan aplikasi perjodohan presisi ("Tinder untuk sapi") guna mencocokkan genetik induk betina dan semen pejantan. AHI menargetkan eksekusi penuh seleksi genomik pada 2035 guna melahirkan Sapi Holstein khas Indonesia.
Melengkapi dari sudut pandang komunikasi, Prof. Dr. Effendi Ghazali, M.Si., M.P.S., Ph.D., Pakar Komunikasi dan Pengamat Peternakan, mengingatkan pentingnya menerjemahkan sains genomik yang rumit ke dalam bahasa keseharian peternak rakyat. Beliau juga mendorong agar pemerintah segera mengeksekusi rencana Laboratorium Genomik Nasional dan menerapkan praktik penetapan harga yang adil (fair pricing) berdasarkan kualitas genetik agar peternak rakyat sungguh-sungguh merasakan keuntungan finansialnya.
Keberhasilan transformasi industri peternakan Indonesia tidak lagi bergantung pada pemeliharaan tradisional dan pengamatan fisik, melainkan pada keakuratan seleksi genetik (genetic selection). Melalui penerapan seleksi genetik yang presisi dan dikelola secara kolaboratif oleh pemerintah, akademisi, asosiasi, dan praktisi di lapangan, Indonesia optimistis dapat melahirkan generasi sapi lokal berproduktivitas tinggi dan adaptif. Revolusi genetik inilah yang akan menjadi fondasi utama dalam memangkas defisit impor, menjamin ketahanan protein hewani jangka panjang, serta mewujudkan kedaulatan pangan nasional.