Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

BET Gelar Forum Konsultasi Publik 2026, Perkuat Kualitas Pelayanan dan Sinergi dengan Pemangku Kepentingan

13/10/2026 08:30:00 Admin Satker 8

Bogor — Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang menyelenggarakan kegiatan Forum Konsultasi Publik (FKP)  sesuai dengan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2026 di Aula Ongole, Balai Embrio Ternak, Cipelang, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi wadah komunikasi dan koordinasi antara BET dengan para pemangku kepentingan untuk menyampaikan informasi mengenai layanan publik sekaligus menghimpun saran dan masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Embrio Ternak, Ibu Deasy Zamanti, S.Pt., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pelaksanaan Forum Konsultasi Publik bertujuan untuk menyosialisasikan perubahan dan pengembangan layanan yang disediakan oleh BET Cipelang agar semakin sesuai dengan kebutuhan para pemangku kepentingan.

Beliau juga berharap seluruh peserta, baik yang hadir secara langsung maupun daring, dapat berpartisipasi aktif dalam memberikan saran, kritik, dan masukan yang konstruktif sebagai bahan evaluasi dan perbaikan pelayanan BET ke depan.

 

Dalam kegiatan tersebut, BET memaparkan rancangan Standar Pelayanan Publik yang mencakup berbagai jenis layanan, antara lain penjualan embrio, penjualan ternak bibit, produksi dan transfer embrio, pembinaan dan bimbingan teknis, layanan konsultasi, juri kontes ternak, serta layanan pendukung berupa magang, narasumber, eduwisata, perpustakaan, informasi, dan dokumentasi.

Pemaparan materi dilakukan oleh masing-masing tim kerja sesuai dengan bidang pelayanan. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami jenis layanan yang tersedia, sekaligus menyampaikan berbagai masukan terkait prosedur, persyaratan, informasi produk, dan akses terhadap layanan BET.

Forum ini dihadiri oleh perwakilan instansi pemerintah, pemerintah kecamatan, akademisi, media massa, asosiasi, serta pengguna layanan peternakan. Berbagai pandangan disampaikan untuk mendorong pelayanan yang semakin transparan, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

 

Perwakilan Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian Pertanian, Wendhy Lukman, S.Sos., menyampaikan pentingnya pelaksanaan Forum Konsultasi Publik secara berkala sebagai sarana menampung aspirasi petani dan peternak serta memperkuat kolaborasi antara unit pelaksana teknis dan pemangku kepentingan.

Melalui Forum Konsultasi Publik BET 2026, Balai Embrio Ternak Cipelang berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang transparan, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Sinergi dengan pemerintah, akademisi, media, asosiasi, peternak, dan pengguna layanan diharapkan mampu mendukung pengembangan peternakan serta penyediaan bibit ternak unggul di Indonesia.

Sementara itu, Sekretaris Camat Cijeruk, Ilmu Gunawan, S.H., M.A., memberikan masukan agar BET semakin dikenal oleh masyarakat sekitar. Selain memperkenalkan layanan dan produk yang dihasilkan, BET diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat di bidang peternakan.

Masukan juga disampaikan oleh perwakilan akademisi dan media massa. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain kejelasan persyaratan pengajuan embrio, informasi mengenai produk yang dihasilkan BET, mekanisme layanan magang, pengembangan kerja sama bimbingan teknis dengan perguruan tinggi, serta optimalisasi media sosial sebagai sarana informasi dan promosi pelayanan publik.

Dari sisi pengguna layanan, peserta menyampaikan apresiasi terhadap pelayanan yang telah diberikan BET. Selain itu, terdapat harapan agar pendampingan penerapan teknologi reproduksi ternak, khususnya transfer embrio, dapat terus dikembangkan melalui kerja sama dengan peternak dan pelaku usaha peternakan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, BET menyampaikan komitmennya untuk memperluas sosialisasi layanan kepada masyarakat, sekolah, dan perguruan tinggi. BET juga akan mengoptimalkan pemanfaatan media sosial agar informasi mengenai layanan, produk, dan kegiatan balai dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Dalam bidang pengembangan teknologi reproduksi, BET membuka peluang kerja sama dengan peternak yang berminat menerapkan teknologi transfer embrio. Pengembangan teknologi ini juga diarahkan untuk menjangkau komoditas ternak lainnya, termasuk ruminansia kecil, sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangannya.

Terkait penyediaan ternak bibit, BET menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan balai-balai prioritas, seperti Balai Inseminasi Buatan, menjadi pertimbangan utama sebelum penjualan kepada masyarakat umum dilakukan. Kebijakan tersebut mempertimbangkan ketersediaan ternak bibit yang jumlahnya masih terbatas.

Melalui forum ini, BET juga menyampaikan informasi bahwa distribusi embrio pada tahun berjalan dalam notulen telah mencapai 379 embrio dan 37 ternak bibit ke berbagai wilayah di Indonesia. Distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung penyediaan bibit ternak unggul, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Selain diskusi bersama para pemangku kepentingan, kegiatan ini turut memberikan ruang bagi mahasiswa yang pernah mengikuti program magang untuk menyampaikan pengalaman mereka. Para mahasiswa mengapresiasi fasilitas pendukung, kesempatan memperoleh pengetahuan, serta pengalaman praktik langsung di kandang yang membantu menunjang proses pembelajaran.

 

Kepala Balai Embrio Ternak menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas partisipasi dan masukan yang diberikan. Seluruh masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja, menyempurnakan standar pelayanan, serta memperkuat sinergi antara BET dan para pemangku kepentingan.